Sejarah Konferensi Asia Afrika (KAA)


Kerja sama antarbangsa Asia dan Afrika pernah diusahakan oleh para mahasiswa Asia dan Afrika yang belajar di Eropa sebelum Perang Dunia II. Pada tanggal 15 Januari 1927, beberapa pemuda Asia menyelenggarakan Kongres Liga Internasional Antipenindasan dan Penjajahan di Brussel, Belgia. Dalam kongres ini, beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di negeri Belanda seperti Mohammad Hatta, Ali Sastroamijoyo, dan Nazir Sutan Pamuncak juga turut hadir.


Setelah Perang Dunia II, masih ada beberapa bangsa di kawasan Asia dan Afrika yang belum merdeka. Di Asia ada beberapa daerah yang masih berstatus jajahan bangsa Eropa. Misalnya Malaysia dan Singapura yang merupakan jajahan Inggris. Sementara itu di Benua Afrika, Kongo masih dijajah Belgia, Angola dijajah Portugis, Aljazair dijajah Prancis, dan bangsa-bangsa lainnya. Penduduk daerah jajahan umumnya hidup kekurangan, tidak berpendidikan serta tidak dapat ikut mengatur pemerintahan dan mengelola perekonomian di negerinya sendiri.

Sementara itu, bangsa-bangsa Asia yang telah merdeka masih sering bersengketa karena kepentingan tertentu. Misalnya, India bersengketa dengan Pakistan memperebutkan daerah Kashmir, dan Vietnam dilanda perang saudara. Terkadang, negara-negara besar seperti Uni Soviet dan Amerika Serikat ikut campur sehingga makin memperkeruh suasana.


Berbagai peristiwa tersebut menimbulkan kesadaran bangsa Asia dan Afrika akan pentingnya persatuan untuk mengatasi masalah mereka bersama. Selain itu, bangsa-bangsa Asia dan Afrika umumnya memiliki nasib yang sama. Misalnya, hampir semua bangsa Asia dan Afrika merupakan bekas jajahan bangsa Eropa.

Pada tanggal 2 April 1947 Perdana Menteri India Sri Pandhit Jawaharlal Nehru menggelar Konferensi Hubungan Antar-Asia (Inter-Asia Relation Conference) di New Delhi. Dalam konferensi tersebut, beberapa negara Asia sepakat untuk menjalin kerja sama dalam menentang penjajahan demi kemajuan dan kemakmuran Asia. Dalam konferensi ini, Haji Agus Salim hadir sebagai wakil Republik Indonesia. Salah satu poin penting dalam konferensi ini ialah pernyataan negara-negara Asia guna bersatu menentang Belanda yang berusaha menjajah kembali Indonesia.

Gagasan penyelenggaraan KAA muncul dalam Konferensi Pancanegara I yang diselenggarakan pada 28 April–2 Mei 1954 di Kolombo, Sri Lanka. Dalam konferensi ini, kepala pemerintahan yang hadir yakni Perdana Menteri Ali Sastroamijoyo (Indonesia), Perdana Menteri Sri Pandhit Jawaharlal Nehru (India), Perdana Menteri Mohammad Ali Jinnah (Pakistan), Perdana Menteri Sir John Kotelawala (Sri Lanka), dan Perdana Menteri U Nu (Myanmar). Konferensi tersebut diadakan untuk menyamakan persepsi dalam menyikapi masalah Vietnam sebagai bekal dalam menghadapi Konferensi Jenewa 1954 yang akan membicarakan masalah tersebut.

Dalam konferensi di Kolombo tersebut, Perdana Menteri Ali Sastroamijoyo mengemukakan perlunya diselenggarakan Konferensi Asia Afrika. Gagasan tersebut disambut oleh empat perdana menteri lainnya. Kemudian, kelima perdana menteri tersebut mengadakan pertemuan di Bogor pada tanggal 28–29 Desember 1954 yang dikenal dengan Konferensi Pancanegara II.

Pada tanggal 18–24 April 1955 di Gedung Merdeka, Bandung Konferensi Asia Afrika dibuka oleh Presiden Soekarno. Konferensi ini dihadiri 29 negara dari 30 negara yang diundang. Satu negara yang tidak hadir ialah Federasi Afrika Tengah karena sedang terjadi pergolakan politik di negara tersebut.

Dalam Konferensi Asia Afrika, Perdana Menteri Ali Sastroamijoyo terpilih sebagai ketua konferensi, Ruslan Abdul Gani sebagai sekretaris jenderal, Muhammad Yamin sebagai ketua komite kebudayaan, dan Prof. Ir. Rooseno sebagai ketua komite ekonomi.

Beberapa keputusan penting yang dihasilkan dalam Konferensi Asia Afrika meliputi kerja sama ekonomi, kebudayaan, Hak Asasi Manusia, dan menyikapi masalah bangsa-bangsa yang masih dijajah.

Keputusan dalam bidang ekonomi meliputi hal-hal berikut.
  1. Kerja sama ekonomi atas dasar saling menguntungkan dan saling pengertian serta menghormati kedaulatan nasional masing-masing.
  2. Saling memberi bantuan teknik berupa tenaga ahli, fasilitas latihan, proyek-proyek percontohan dan pendirian lembaga riset serta latihan.
  3. Segera dibentuk badan khusus PBB untuk pembangunan ekonomi dan pengalokasian dana yang lebih besar dari Bank Internasional untuk pembangunan negara-negara Asia Afrika.
  4. Perlunya pemantapan perdagangan komoditas di kawasan Asia Afrika.
Keputusan dalam bidang kebudayaan meliputi hal-hal berikut.
  1. Menumbuhkan saling pengertian dalam membangun kerja sama bidang kebudayaan.
  2. Pertukaran informasi mengenai kebudayaan masing-masing yang saling menguntungkan.
Dalam bidang Hak Asasi Manusia adalah sebagai berikut.
  1. Mendukung prinsip-prinsip dasar HAM seperti yang tercantum dalam Universal Declaration of Human Rights.
  2. Mengecam diskriminasi rasial serta bertekad menghapuskannya.
Keputusan dalam menyikapi masalah bangsa-bangsa yang masih dijajah antara lain sebagai berikut.
  1. Kolonialisme dalam bentuk apa pun merupakan suatu kejahatan yang harus segera diakhiri.
  2. Penaklukan bangsa-bangsa, dominasi dan eksploitasi asing merupakan pelanggaran hak-hak asasi manusia.
  3. Mendukung perjuangan dan kemerdekaan bangsa-bangsa yang masih terjajah, seperti Aljazair, Maroko, dan Tunisia untuk menentukan nasib sendiri.
  4. Mendukung penuh hak-hak rakyat Palestina atas tanah airnya dan menyerukan penyelesaian masalah secara damai.
  5. Mendukung posisi Indonesia dalam masalah Irian Barat.
  6. Mendukung Yaman dalam masalah Aden.
Keputusan dalam bidang perdamaian dan kerja sama internasional adalah sebagai berikut.
  1. Menyokong masuknya beberapa negara yang memenuhi syarat untuk menjadi anggota PBB, seperti Jepang, Kamboja, Libya, Nepal, Sri Lanka, Vietnam, dan Yordania.
  2. Menghimbau semua pihak untuk membatasi, mengontrol, dan mengurangi persenjataan.
Dalam bidang politik, KAA merumuskan pokok perdamaian yang dinamakan Dasasila Bandung.
Isi Dasasila Bandung
  1. Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat dalam Piagam PBB.
  2. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa.
  3. Mengakui persamaan ras dan persamaan semua bangsa, baik besar maupun kecil.
  4. Tidak melakukan intervensi atau campur tangan masalah dalam soal-soal negeri orang lain.
  5. Menghormati hak tiap-tiap bangsa untuk mempertahankan diri sendiri, secara sendirian maupun secara kolektif, yang sesuai dengan Piagam PBB.
  6. (a) Tidak menggunakan peraturan-peraturan pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus salah satu negara besar (b) Tidak melakukan tekanan terhadap negara lain.
  7. Tidak melakukan tindakan-tindakan atau ancaman agresi ataupun penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik suatu negara.
  8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrase atau penyelesaian hukum atau cara damai lain-lain lagi menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan, yang sesuai dengan Piagam PBB.
  9. Memajukan untuk kepentingan bersama dan kerja sama.
  10. Menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional.
Konferensi Asia Afrika memiliki pengaruh yang besar dalam politik internasional di masa tersebut. Konferensi Asia Afrika pula yang mendorong berdirinya Gerakan Non-Blok. Peran Indonesia dalam KAA.
a. Merupakan negara pemrakarsa KAA.
b. Memegang peranan dalam kepengurusan KAA.
c. Penyelenggara KAA.
d. Penyelenggara konferensi dalam lingkup Asia Afrika.
1) Konferensi mahasiswa Asia-Afrika
2) Konferensi wartawan
3) Konferensi film Asia-Afrika II
4) Konferensi Islam Asia-Afrika

Indonesia juga berperan dalam menyelenggarakan KTT Asia Afrika 2–23 April 2005 di Jakarta dengan kesepakatan sebagai berikut.
  1. Mendasarkan kemitraan strategi Asia-Afrika pada Sembilan prinsip kerja sama, salah satunya Dasasila Bandung.
  2. Menjalin kerja sama erat dalam menghadapi tantangan era globalisasi, memperbaiki kesejahteraan di kawasan Asia Afrika melalui kerja sama teknis.
  3. Melibatkan semua lapisan masyarakat dalam kemitraan Asia Afrika mulai dari pemerintahan, organisasi regional, subregional, dan masyarakat umum.
Arti penting KAA adalah sebagai berikut.
  1. Mengilhami berdirinya GNB.
  2. Penengah blok Barat dan Blok Timur.
  3. Merupakan cetusan rasa setia kawan dan kebangunan bangsa Asia-Afrika untuk menggalang persatuan.
  4. Pendorong perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa di dunia umumnya dan Asia-Afrika khususnya.