Sejarah Gerakan Non-Blok (GNB)


Dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955, muncul gagasan untuk membentuk organisasi yang tidak terikat pada dua blok yang sedang bersaing dalam perang dingin karena penjajahan yang masih terjadi di sejumlah negara, salah satunya disebabkan oleh Perang Dingin.



Kegiatan GNB meliputi berikut ini.
  1. Dalam bidang politik, ikut serta dalam perdamaian dunia.
  2. Bidang ekonomi, ikut mewujudkan tata ekonomi dunia baru dengan mengadakan kegiatan-kegiatan yaitu dialog Utara Selatan, Kelompok 77, negosiasi global, dan kerja sama Selatan–Selatan.
Gerakan Non-Blok (Non-Aligned Movement) didirikan untuk menyikapi persaingan antara Blok Barat yang menganut kapitalisme dan Blok Timur yang menganut komunisme pada awal tahun 1960-an. Saat itu, kedua blok dipimpin oleh dua negara adidaya, yakni Amerika Serikat dan Uni Soviet. Persaingan kedua blok memicu terjadinya Perang Dingin (Cold War) yang dapat mengancam perdamaian dunia.

Pada tahun 1961, ketegangan antara Blok Barat dan Blok Timur semakin menjadi-jadi. Saat itu, Blok Timur sengaja membangun tembok yang memisahkan Kota Berlin bagian barat dengan bagian timur. Pada tahun yang sama, di Kuba terjadi krisis setelah Uni Soviet membangun pangkalan rudal di negara tersebut. Ketegangan tersebut memicu terbentuknya Gerakan Non-Blok.

Masih pada tahun 1961, dilangsungkan pertemuan untuk persiapan KTT I Gerakan Non-Blok yang diselenggarakan di Kairo. Dalam pertemuan tersebut, diputuskan lima prinsip yang menjadi dasar Gerakan Non-Blok yaitu sebagai berikut.
  1. Tidak berpihak terhadap persaingan antara Blok Barat dan Blok Timur.
  2. Berpihak terhadap perjuangan antikolonialisme.
  3. Menolak ikut serta dalam berbagai bentuk aliansi militer.
  4. Menolak ikut serta dalam aliansi bilateral dengan Negara adikuasa.
  5. Menolak pendirian basis militer negara adikuasa di wilayah masing-masing.
Adapun tujuan GNB adalah sebagai berikut.
  1. Menentang imperialisme, kolonialisme, rasialisme, zionisme, neokolonialisme, dan anti apartheid.
  2. Menyelesaikan sengketa secara damai.
  3. Mengusahakan pengembangan sosial ekonomi agar tidak dikuasai negara maju.
  4. Membantu perdamaian dunia, berusaha meredakan ketegangan Amerika Serikat dengan Uni Soviet.
Peran penting Konferensi Asia Afrika dalam terbentuknya Gerakan Non-Blok memperlihatkan besarnya pengaruh Indonesia dalam gerakan tersebut. Indonesia pun terlibat aktif dalam persiapan KTT I Gerakan Non-Blok di Beograd, Yugoslavia.

Berdirinya Gerakan Non-Blok diprakarsai oleh PM India Jawaharlal Nehru, PM Ghana Kwame Nkrumah, Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser, Presiden Indonesia Soekarno, dan Presiden Yugoslavia Jossep Broz Tito yang dikenal dengan nama The Initiative of Five.

Gerakan Non-Blok berkembang pesat dari jumlah anggota 25 negara pada KTT I di Yugoslavia tahun 1961 menjadi 113 negara anggota. Anggota Gerakan Non-Blok (GNB) tidak memiliki aturan baku dan juga sekretariat yang tetap. Keputusan tertinggi berada pada Ketua KTT yang merangkap sebagai tuan rumah KTT. KTT Gerakan Non-Blok dilaksanakan tiga tahun sekali. Jabatan ketua GNB dan tuan rumah KTT selanjutnya diputuskan melalui KTT. Kuba merupakan Ketua GNB periode 2006–2009 yang juga merupakan tuan rumah KTT GNB XIV. Untuk menata dan menyesuaikan perubahan situasi global, GNB perlu menjalin kerja sama internasional untuk memperjuangkan “tata ekonomi dunia baru”. Hal ini memperkuat GNB yang didukung negara-negara berkembang.


0 Response to "Sejarah Gerakan Non-Blok (GNB)"

Post a Comment