Nini Randa dengan Pohon Tangkalupa


Alkisah, di suatu desa hiduplah seorang janda bernama Nini Randa Walaupun sudah lama menjanda dan hidup di tempat terpencil, dia tidak pernah merasa kekurangan. Setiap hari Nini Randa bekerja menumbuk padi. Lesung yang digunakan menumbuk padi biasanya diletakkan di belakang rumah, di bawah pohon tangkalupa.

Suatu hari saat Nini Randa menumbuk padi, terjadi suatu keanehan. Padi yang ditumbuknya tiba-tiba menghilang. Kejadian itu tentunya mengagetkan Nini Randa. Hal itu membuat Nini Randa bingung, ia mencari ke mana hilangnya padi yang tadinya sedang ia tumbuk, namun tetap saja padi itu tak dapat ia temukan.


Pada awalnya Nini Randa diam saja saat menghadapi peristiwa tersebut dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Namun, setelah kejadian itu berulang-ulang, Nini Randa sangat marah. Dia mengira yang menghabiskan padinya adalah lesung. Sambil memaki-maki, Nini Randa mengutuk lesung itu jadi kerbau. Akhirnya, lesung itu berubah jadi seekor kerbau dan alunya menjadi tanduk.

Sebenarnya yang memakan padi itu bukanlah lesung, tetapi hantu yang hidup di pohon tangkalupa. Hantu itu marah karena merasa terganggu oleh suara lesung Nini Randa. Oleh karena itu, ketika Nini Randa mengutuk lesung jadi kerbau, hantu itulah yang sebenarnya mengubah lesung itu menjadi kerbau.

Keesokan harinya Nini Randa bermaksud menumbuk padi, tetapi lesungnya tidak ada. Dia marah-marah lagi. Kali ini perhatiannya tertuju pada pohon tangkalupa. Nini Randa mengira yang memakan padinya itu adalah pohon tersebut. Seperti biasa jika marah, dia mengumpat dan mengutuk. Dikutuknyalah pohon itu agar roboh. Ternyata kutukan itu tidak ampuh, sebab hantu yang tinggal di pohon itu tentunya tidak mau merusak tempat tinggalnya. Karena sangat marah, Nini Randa mengambil parang dan mulai menebang pohon tersebut. Setelah sekian lama, akhirnya pohon itu dapat dirobohkan dan dipotong-potong menjadi tujuh bagian.

Nini Randa sangat senang melihat pohon tangkalupa berhasil ia robohkan. Namun, hantu penghuni pohon itu sangat marah karena rumahnya dirusak. Saking marahnya, ketujuh potongan pohon tangkalupa tadi dirubah oleh hantu menjadi kerbau. Betapa terkejutnya Nini Randa melihat kejadian itu. Dia menjadi sedih dan putus asa. Dia mengutuk dirinya bahwa sebaiknya dia yang dijadikan kerbau. Kutukan itu terdengar oleh hantu sehingga segera si hantu mengabulkannya. Akhirnya, Nini Randa berubah menjadi seekor kerbau.

Hingga saat ini banyak orang yang tidak mau memakan daging kerbau karena mereka beranggapan bahwa kerbau itu berasal dari Nini Randa dan lesungnya.

Marah merupakan perbuatan yang sangat manusiawi. Setiap manusia tentu pernah marah. Namun, marah yang tak terkendalikan, apalagi menjadi kebiasaan, tentunya akan menjadi penyakit rohani.

Peluapan rasa marah dari setiap orang cukup beragam, kesemuanya sangat ditentukan oleh sifat dan kepribadian orang yang sedang marah. Ada orang yang melampiaskan marahnya dengan hal-hal positif. Adapula yang melampiaskan marahnya dalam bentuk negatif. Namun, yang paling sering dilakukan seseorang ketika sedang marah adalah melampiaskannya dengan cara negatif, misalnya mengomel, sumpah-serapah, bahkan sampai mengutuk. Legenda Nini Randa dan Pohon Tangkalupa menceritakan tokoh utama yang melampiaskan marahnya dengan perbuatan negatif, yaitu mengeluarkan cacian dan makian serta kutukan.

Tema yang terkandung dalam Legenda Nini Randa dan Pohon Tangkalupa adalah kebiasaan melampiaskan marah dengan caci-maki dan kutukan tidak baik. Amanat yang dapat diambil dari tema ini, yakni kita tidak perlu melampiaskan kemarahan dengan caci-maki dan kutukan. Hal tersebut merupakan perbuatan sia-sia dan dapat merugikan diri sendiri.

Dalam kutipan di atas Nini Randa melakukan kutukan dua kali, kutukan pertama diberikan kepada lesung supaya jadi seekor kerbau. Kutukan kedua adalah mengutuk kerbau jadi tuli. Perilaku mengutuk ini memang selalu dilakukan oleh Nini Randa bila dia dalam keadaan marah. Hingga pada suatu saat dia mengalami celaka akibat kutukannya sendiri.

Sumber: Kisah Rakyat Banjar