Kerajaan Medang Kamulan dan Jenggala


Akhir abad ke-9 M, di Indonesia terdapat dua kerajaan besar, yaitu Mataram di Pulau Jawa dan Sriwijaya di Pulau Sumatra. Kedudukan Kerajaan Sriwijaya semakin kuat dan berhasil menguasai hampir seluruh Kepulauan Nusantara dengan politik perdagangan dan ekspansinya. Armada laut Kerajaan Sriwijaya terkenal kuat dalam pengamanan perairan Nusantara, terutama Selat Malaka. 

Keadaan ini tentu saja mengancam kedudukan Kerajaan Mataram. Oleh karena itu, Kerajaan Mataram dipindahkan ke wilayah sekitar Kali Brantas, Jawa Timur oleh Empu Sindok. Kerajaan yang didirikan pada 929 M oleh Empu Sindok dari Wangsa Isana merupakan leluhur bagi kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa. Kekuasaan kerajaan yang dipimpin oleh Empu Sindok yang bergelar Sri Maharaja Rakai I Hino Sri Isana Wikrama Dharmatunggadewa ini meliputi Kota Sidoarjo sampai Kediri sekarang. Dalam menjalankan pemerintahannya Empu Sindok dibantu oleh istrinya Dyah Kebi, putri Raja Wawa.



Empu Sindok memerintah dengan adil dan bijaksana. Ia berusaha untuk memakmurkan rakyatnya, di antaranya membangun bendungan untuk pengairan. Dalam menjalankan kehidupan keagamaan, Empu Sindok memberikan kebebasan kepada rakyatnya untuk memeluk agama yang disukainya, baik Hindu maupun Buddha. Oleh karena itu, rakyatnya merasa hidup aman dan tenteram secara berdampingan. Perhatiannya terhadap masalah agama sangat besar. Hal ini terbukti dengan dibukukannya Kitab agama Buddha, Sang Hyang Kamahayanikan yang menandai dianutnya agama Buddha Tantrayana. Empu Sindok sangat menghormati pemeluk agama lainnya, meskipun beliau sendiri beragama Hindu Syiwa.

Setelah Empu Sindok wafat, ia digantikan oleh anak perempuannya bernama Sri Isanatunggawijaya yang menikah dengan Lokapala. Dari hasil perkawinan ini, lahirlah Makutawangsawardhana yang menggantikan ibunya sebagai raja Medang. Kelak dari Makutawangsawardhana, lahirlah seorang putra bernama Dharmawangsa Teguh dan Mahendradatta yang menikah dengan Raja Udayana dari Bali dan menurunkan seorang anak laki-laki bernama Airlangga.

Pada 1016 M, Dharmawangsa Teguh meninggal akibat serangan dari Raja Wurawari saat menikahkan putrinya dengan Airlangga, putra Raja Udayana dari Bali. Peristiwa ini terkenal dengan sebutan pralaya. Dalam pralaya tersebut, Airlangga dapat melarikan diri bersama para pengikutnya di bawah pimpinan Narottama. Mereka bersembunyi bersama para pertapa di hutan Gunung Pananggungan, Wonogiri. Baru pada 1019 M, Airlangga dinobatkan sebagai raja pengganti Dharmawangsa Teguh dengan gelar Sri Maharaja Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramattunggadewa.

Sebelum Airlangga memindahkan ibu kota kerajaan ke Kahuripan (Jenggala), ia berhasil mengalahkan musuh-musuhnya dan dapat merebut kembali seluruh wilayah kerajaan yang memang dianggap menjadi haknya. Ia berhasil memulihkan wibawa Wangsa Isana dengan menaklukkan musuh-musuhnya, antara lain Raja Bhisaprabhawa pada 1029 M, Raja Wijayawarman dari Wengker pada 1030 M, Raja Adhamapanuda pada 1031 M, dan Raja Wurawari pada 1035 M. Airlangga pun akhirnya dapat kembali menguasai seluruh Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali.

Beberapa hal penting dalam masa pemerintahan Airlangga, antara lain, diperbaikinya Pelabuhan Hujung Galuh di Muara Kali Brantas dan pembangunan bendungan besar di Waringin Sapta. Pelabuhan Tuban dan Hujung Galuh kemudian menjadi bandar perdagangan yang ramai. Banyak pedagang asing singgah di kedua pelabuhan itu, seperti pedagang dari India, Burma, Kamboja, dan Champa. Airlangga membangun bendungan besar di Waringin Sapta pada 1037 M. Prasasti tersebut menyebutkan berita mengenai meluapnya Kali Brantas yang mengakibatkan tanaman rusak, lalu lintas sungai terganggu, dan hubungan dengan luar negeri terputus. Akhirnya, Airlangga memerintahkan untuk membangun bendungan Waringin Sapta agar aliran air Kali Brantas dapat kembali mengalir ke Utara.

Kejayaan Airlangga pada masa pemerintahannya diceritakan secara simbolik oleh Empu Kanwa dalam Kitab Arjunawiwaha. Isi Kitab tersebut merupakan kiasan terhadap hasil jerih payah Airlangga. Airlangga kemudian mengundurkan diri sebagai raja untuk menjadi Resi Gentayu. Airlangga meninggal pada 1049 M dan disemayamkan di kompleks Candi Belahan di lereng Gunung Penanggungan.


0 Response to "Kerajaan Medang Kamulan dan Jenggala"

Post a Comment