Iwan Fals Sang Fenomenal



Iwan Fals adalah seorang pemusik Indonesia yang terkenal karena dengan lantang menyuarakan suara hati masyarakat bawah atau "orang kecil". Selama lebih dari 20 tahun, ia telah berkarier di dunia musik dengan menyanyikan lagu-lagu yang kerap kali dihubungan dengan protes sosial.

Iwan Fals dilahirkan di Jakarta pada tanggal 3 September 1961. Nama lengkapnya adalah Virgiawan Listianto. Sejak berusia 13 tahun, ia sudah mulai bermain musik dan mengarang lagu dengan lirik yang lucu dan mengutakatik lagu orang lain. Ia mengawali kariernya di dunia musik dengan mengamen di tempat orang yang sedang mengadakan hajatan. Termasuk mengamen di atas bus kota.

Sejak 1975, Iwan Fals mulai mengamen di Bandung dan Jakarta. Selain itu, ia juga mulai menyanyi di berbagai acara pesta perkawinan. Ketika pindah ke Jakarta, ia tetap mengamen dan sempat mengikuti berbagai festival, seperti festival musik country dan lagu humor. Ia bahkan sempat merekam lagu humornya itu walaupun kurang berhasil di dunia rekaman musik. Akan tetapi, ketika menyanyikan lagu bernada kritik sosial dan menyuarakan suara masyarakat bawah (kaum pinggiran), nama Iwan Fals mulai melejit dalam blantika musik di Tanah Air, antara lain, melalui album Sarjana Muda, 1910, Mata Dewa, dan Manusia ½ Dewa. Iwan Fals menjadi idola masyarakat, terutama kaum muda karena keberaniannya mengkritik penguasa melalui lagunya. Pada masa Orde Baru, beberapa lagunya dilarang dan ia tidak boleh menyelenggarakan konser musik.

Melalui syair lagunya, Iwan Fals antara lain memperjuangkan nasib guru yang diungkapkannya dalam lagu yang berjudul Oemar Bakri, mengkritik para anggota legislatif yang tidak memperjuangkan nasib rakyat (Wakil Rakyat), dan mengkritik para pengusaha yang serakah (Bento).
Pada pertengahan tahun 1990-an, Iwan Fals sempat bergabung dengan berbagai kelompok, seperti Swami, Dalbo, Kantata Takwa, dan Kantata Samsara. Iwan berkolaborasi di kelompok itu dengan musisi dan budayawan, seperti W.S Rendra, Sawung Jabo, Jocky Suprayogo, dan Setiawan Djody.

Selain itu, ia sempat membuat album kolaborasi di luar kelompok tersebut, antara lain, Anak Wayang (bersama Sawung Jabo), Terminal dan Orang Pinggiran (bersama Franky Sahilatua), dan Mata Hati (bersama Bobby Erres). Pada 2003, ia juga melakukan kolaborasi dengan para pencipta lagu muda Indonesia yang melahirkan sebuah album yang berjudul Iwan Fals: In Collaboration With. Majalah Time edisi Asia (29 April 2002) memilih Iwan Fals sebagai salah satu "Pahlawan Besar Asia". Menurut Time, ia dianggap berani menentang rezim yang menyalahgunakan kekuasaannya ketika berkuasa. Syair dalam lagunya dianggap mampu memengaruhi para pendengarnya sehingga membawa dampak pada perubahan sosial di Indonesia

0 Response to "Iwan Fals Sang Fenomenal"

Post a Comment